Rabu, 17 Juni 2015

Semua Tentang Hobi

Setiap orang memiliki hak untuk memilih apa yang hendak diraih olehnya dimasa yang akan datang, dan hal itu tentunya tak lepas dari apa yang disebut Hobi, karena sebagian besar orang yang berhasil adalah ia yang mampu memahami potensinya melalui hobi.

Bicara tentang hobi maka kita bicara tentang potensi, kita bicara jauh dari kepenatan tugas kuliah yang bahkan sampai akhir semester belum terselesaikan dengan baik, kecuali jika hobimu memang mengerjakan tugas kuliah, Aku mah apa atuh!. hihihi

Every Child is Star. Setiap orang memiliki potensi dan hobinya sendiri, jangan di banding - bandingkan jangan dipaksakan, manusia lain tak punya hak termasuk orang tuanya sekalipun kecuali hobi itu dapat dikatakan jauh dari hal yang dapat memberikan manfaat melainkan banyak mudharatnya atau keburukan. jika sudah begitu, saat anak memiliki hobi tidak baik seperti mencontek misal, jangan terlalu keras dimarahi, rangkul ia ajak ia belajar karena bisa jadi alasan ia mencontek adalah ia belum menemukan metode dan pembimbing yang tepat dalam belajar. Sipp. kembali ke hobiku, aku memiliki banyak sekali hobi yang bagiku bisa menjadi pilihan, saat aku  bosan aku bisa melakukan hobi yang lainnya, tapi resikonya yaah aku ndak bisa fokus. That's right !! 


Selasa, 28 April 2015

Pantaskan Diri Sebagai Guru

gambar diambil dari: http://indonesia.ucanews.com/wp-content/uploads/2012/10/guru.jpg
Dalam mendefinisikan pengertian guru memang banyak sekali referensinya, namun sekali lagi dalam hal ini saya merasa sangat malas menapaki referensi itu, bukan karena sok pandai namun saya hanya ingin mengetahui seberapa pemahaman saya terhadap apa yang saya pikirkan. Jika dikatakan menjadi peserta didik mungkin memang hanya bisa memberikan kritikan kepada guru tanpa mengerti bagaimana kesibukan guru yang sebenarnya, maka bagi saya hal itu memang sangat dibutuhkan guna evaluasi terhadap kinerja guru. Jadi jika anda ingin menjadi guru, ada baiknya anda pikirkan dengan betul - betul mengenai kesabaran yang harus anda miliki maupun waktu luang dan yang lainnya, dengan kata lain "Pantaskan diri sebagai guru".

Guru, bagi saya guru merupakan salah satu tolok ukur keberhasilan siswa atau peserta didik disamping usaha dan potensi peserta didik itu sendiri maupun kehendak Tuhan yang ketetapannya benar - benar pasti. Bagaimana tidak, menjadi guru bukan hanya dalam arti sempit yaitu mengajar saja melainkan seperti yang dikatakan orang jawa bahwa guru itu digugu lan ditiru maka menjadi guru seharusnya mampu memberikan contoh tabiat yang baik bagi peserta didiknya. Menurut apa yang saya pahami dan saya amati guru adalah pemimpin maka semangat guru teramat penting bagi murid - muridnya karena guru yang selalu semangat akan membuat murid menjadi terbawa arus semangat, lain dengan guru yang selalu mengeluh dan juga menampakkan wajah yang muram terlebih lagi apabila guru itu selalu membawa permasalahan pribadi ketika mengajar, maka hal itu akan sangat berpengaruh terhadap pembelajaran dan kualitas siswa. Disamping itu, sering sekali guru mengatakan dengan nada yang sedikit tidak enak ketika peserta didiknya belum mampu mencapai target prestasi yang ia dambakan dengan ucapan seperti ini "ya... kalau murid kurang berhasil, guru lagi yang disalahkan yah. guru memang selalu salah" dan mendengar hal itu hati saya berkata "kalau gak mau disalahkan gak usah jadi guru, pulang sajalah guru kok kebanyakan ngeluh".

Selain hal - hal tersebut menjadi guru juga dituntut untuk mampu memahami potensi peserta didiknya, itu semua terbukti dengan adanya pembekalan materi kuliah psikologi pendidikan bagi para calon guru. Beberapa waktu lalu, saya sempat menonton film India yang judulnya Teri Zameer Par yang berisi tentang bagaimana pentingnya teori humanism dalam pendidikan, bahwa setiap anak memiliki potensi berbeda, bahwa setiap anak tidak akan mampu disamakan walau ia berada dalam satu lingkungan yang menuntut dirinya harus sama seperti yang lain yaitu lingkungan pendidikan. Lantas siapa yang harus memahami setiap potensi itu? Guru lagi? Ya, benar sekali, guru memang memiliki peran utama dalam hal tersebut. Selain sabar, guru memang harus mampu memahami bagaimana cara peserta didik menunjukkan potensinya. Dengan kata lain, menjadi guru tidak boleh terlalu egois dengan mengarahkan siswa sesuai dengan kehendaknya tanpa memperdulikan apa yang peserta didiknya miliki sebagai potensi. Menjadi guru hendaknya mampu berlapang dada mengarahkan potensi anak didiknya, bukan mengekang dan "mengendalikan" sesuai keinginan dan apabila tidak sesuai keinginannya maka ia menjadi susah hati, masih pantaskah menjadi guru? 

Peserta didik atau siswa atau murid merupakan sasaran dalam pendidikan, jika guru benar - benar mampu memahami teori humanisme dalam psikologi pendidikan harusnya ia mengerti bahwa manusia bukan makhluk yang hanya mampu berjalan ketika diberi stimulan layaknya tikus, manusia memiliki akalnya sendiri dan dengan akalnya itu maka ia mampu berpikir. Pikiran peserta didik bukanlah bahan untuk dikendalikan melainkan diarahkan, ingat!! "diarahkan" maka sekali lagi menjadi guru tidak boleh egois. Lagi pula apa guna teori psikologi pendidikan jika guru masih tidak mampu mengaplikasikannya? apakah itu dianggap hanya sebagai formalitas agar transkip nilai kuliah terisi? 

Dalam hal ini saya memang belum memiliki pengalaman sebagai guru, tentang kesibukan dan apa saja yang membuat guru mengalami kesulitan. Namun saya memiliki sesuatu yang di anugerahkan Tuhan sebagai alat untuk mengamati, dan seringnya saya menjumpai tipikal guru yang tak mampu memahami apa yang menjadi potensi peserta didiknya, kemudian mengolok - olok peserta didik itu di depan peserta didik yang, menuntut mereka untuk setara denganyang lain padahal sudah jelas bukan disitu ia ahli, tidak ingin mendukung apa yang dilakukan peserta didik karena ia memiliki potensi yang jauh berbeda dari apa yang guru harapkan. Padahal sebenarnya hal itu justru membuat harga diri dan kualitasnya sebagai guru menjadi tampak menurun, dan sekali lagi saya memang harus berkata "menjadi guru harus siap disalahkan". Seharusnya ketika ingin menjadi guru maka ia harus mengerti bahwa hal itu sangatlah riskan bahkan tanggung jawab menjadi guru terbawa hingga dihadapan Tuhan. Jika dikatakan bahwa menjadi guru boleh mengatur siswanya, maka saya katakan "lihatlah tabiat anda", jika dikatakan bahwa menjadi guru tak semudah kritikan saya maka saya katakan "lalu kenapa masih memaksakan jika ikhlas bukan dasar anda", jika dikatakan bahwa saya tidak mengerti apa - apa maka saya katakan "pengalaman memang penting namun percuma bila anda menutup telinga", dan jika dikatakan bahwa saya benar - benar belum mengerti apa - apa maka saya katakan "berarti anda benar benar setengah hati".

Menjadi guru memang tidak mudah jika anda terlalu sering mengeluh, egois, dan hanya berusaha mencapai target. Karena pendidikan bukan hanya dilakukan untuk mencapai target melainkan untuk memberikan pemahaman, target hanya tujuan cadangan sedangkan tujuan utama adalah pemberian pengertian. Percuma memampang target namun tak ingin memperhatikan yang lain, tidak bisa dipungkiri memang target itu perlu namun proses lebih perlu. So, pantaskan diri sebagai guru, bila ingin menjadi seorang guru wajib yaitu guru yang kehadirannya membawa sesuatu yang positif bagi setiap peserta didik baik dalam segi semangat, pembelajaran dan solidaritas, jangan bangga ketika menjadi guru yang tidak disukai banyak siswa atau peserta didik karena bisa jadi kehadiran guru itu hanya membawa keluhan, amarah, sehingga berdampak kebosanan dan kemalasan siswa disadari ataupun tidak. 

"ini hanya pendapat tentang apa yang saya dapatkan dari pengamatan, karena saya merasa perduli dengan pendidikan. Maaf apabila ada kesalahan, semoga Allah mengampuni saya atas kesalahan yang mungkin ada dalam artikel ini"

Senin, 27 April 2015

Cukup Diam

Gambar diambil dari: http://i.huffpost.com/gen/1319291/images/o-BENEFITS-OF-QUIET-facebook.jpg

Diam itu emas
Diam itu menghanyutkan 
itulah ungkapan yang biasa dikatakan kepada seseorang, bahkan Ali bin Abu Thalib mengatakan: "Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. karna yang menyukaimu tak membutuhkan itu, dan yang membencimu tidak percaya itu". 

Nah, sudah jelas bukan bahwa diam adalah lebih baik daripada itu nantinya akan membuatmu berada dalam kesukaran. Begitu banyak hal yang mampu membuat kita terjerumus dalam hal yang tidak baik hanya karena lisan, begitu bahaya dan tajam memang lisan kita ini. Bahkan, begitu banyak yang mengatakan bahwa "sakit karena ucapan, siapa yang mampu mengobati?" 

Seperti yang kita ketahui bahwa lidah hanya memiliki tulang lunak untuk bergerak, entahlah itu tulang atau bukan  yang pasti lidah memiliki akses luas jika tidak kita jaga dengan baik. Memang, tidak selalu diam itu baik. Terutama seperti ketika sedang berdiskusi di dalam kampus, maka diam akan membuatmu menjadi semakin tertinggal dari yang lain atau seperti ketika kita memiliki maksud yang baik terhadap orang maka orang itu tidak akan mampu mengerti apabila kita hanya diam tiada berkata, terlebih orang yang kita inginkan itu bukanlah orang yang mampu membaca "kode" yang kamu berikan maka berbicara adalah yang terbaik.

Namun, seperti yang diulas diawal bahwa diam itu perlu, karena orang orang diluar sana tiada ingin mendengarkan kata katamu yang sama sekali tiada berguna itu. Bahkan di kampus saya terpampang slogan yang sangat besar yang bertuliskan, "Lebih baik diam daripada bicara yang menyakitkan, berbicaralah kalau bicaramu mengandung do'a". Jadi, jika bicaramu hanya sia - siaatau bahkan mampu menyakiti yang lain maka diamlah saja. Bicara bukan hanya sekedar penyampai kata melainkan penunjuk hati dan perasaan seseorang. Bagaimana tidak, bukankah berbicara itu mampu mencerminkan apa yang sedang dirasakan seseorang.

Bicaralah jika itu perlu dibicarakan, bicaralah dengan kata yang santun bukan bak meriam berapi yang senantiasa membakar tiap apa yang ia lalui, bicaralah jika itu membangkitkan. dan BUNGKAM mulutmu apabila itu mampu mematahkan semangat lawan bicaramu.

Rindu

Bicara rindu seperti membicarakan titik demi titik hujan yang tiada henti meneteskan kesegaran, ia datang hanya sesaat, ia datang membawa kesejukan sesaat yang membekas, meninggalkan basah meninggalkan dingin. Bicara rindu itu berarti bicara kau dan aku, bicara tentang segenap perasaan yang tak berani ku ungkapkan dihadapanmu, tentang perasaan yang membuatku tersiksa tiada kilah. Rindu, aku tersulut terlalu banyak olehmu, tergetar seluruh jiwa hingga membekas luka penuh lepuh membakar jiwa. 

Bicara rindu rasanya membulat seolah tak memiliki ujung yang pasti, seperti benar rajut yang menyulam rumit, awal hingga akhirnya menyayat di telunjuk tangan sebelah kiri. Bicara rindu berarti bicara tentang butiran - butiran do'a yang kian mengepul bak debu - debu yang beterbangan terbawa angin yang begitu kencang. Bila tak mampu tersampai rindu, sebaiknya memang tak usah tersampaikan hingga Tuhan menyampaikannya dengan cara yang syar'i.Tak perlu merintih aku terhadapmu, cukup rintihanku pada Pemilikmu. 

Bicara rindu maka bicara tentang perasaan yang membungkam tiada ucap sepatahpun, bukan karena bisu bukan pula tak mengerti bahasa, seringnya rindu merasa bahwa dirinya tiada pantas, bahwa dirinya tiada penting lagi. Bicara tentang rindu, maka bicara tentang kita. Tentang kita yang tiada kutahu seberapa pantas rindu merasuk dalam baluran hidup yang semakin meruncing. Bicara rindu maka bicara hatiku yang kian lama benar - benar beku karena sering menggunjing diriku dalam diam, betapa tersiksanya hatiku, betapa lelah langkahku ini meniti rindu yang kian mengembang tanpa ku tahu kapan rindu ini kembali dan hilang. Sesak, aku terpedaya rindu.

Bicara rindu maka bicara tentang aku yang begitu rumit menyembunyikan semuanya yang kurasa benar benar tiada pantas, aku malu pada Dia yang selalu bersamaku dan memberikan rindu padaku. Bicara rindu maka bicara tentang hatiku yang tiada pernah aku pahami hingga kemudian hari, biarlah saja.

Bicara rindu maka bicara cerita yang benar tiada berujung sekuat apapun rindu ini ku hentikan maka semakin aku tiada mampu berdiri membangnkan diri dalam gegap asa yang semakin lama benar benar mnyakiti.

"Bicara rindu maka bicara aku yang tiada lelah menunggumu didalamnya"

Minggu, 26 April 2015

Tentang Cinta

Cinta memang sering tak membutuhkan alasan, dimanapun cinta itu ada maka alasan tak perlu kuat kuat menjamah segala persendiannya. Cinta, bahkan seringnya nampak menyingkir dari titah Tuhan yang sejatinya adalah Maha Cinta. Segala yang indah nampak nyata hingga buai mengalun tanpa pandang bulu.
Cinta, laksana bulan purnama tiada bercahaya tanpa malam sebagai pembanding. Cinta, seperti mata dan air mata, karna tanpa air mata maka mata kian mengering. Cinta tercipta dalam setiap hati, walaupun kau nampak tiada peduli maka sebenarnya itulah rasa cinta yang kau miliki.
Aku tiada menahu banyak tentang makna cinta dalam inderawiku, hanya saja aku mampu merasakannya melalui azimat yang tertuang darinya. Hujjah cinta tiada yang mau mengerti pula memahami, yang kutahu para penikmat cinta hanya memahami melalui intuisi. Cinta lain dengan ilmu pasti, bagiku ia layaknya seni yang tiada habis. Ia menelusup dalam ruang jiwa melalui hati, entah mengapa goresannya tiada mampu terhenti.
Cinta bagiku bagai sebuah pelangi, ia jelas memiliki ujung namun ujungnya semu. Di ujungnya tiada yang tahu melainkan Yang Maha Memberi Cinta. Maka nikmati saja cinta yang kian lama menyayat membawa serta kerinduan ini, karena cinta adalah nikmat Tuhan yang tiada mampu kau dustai.

Sabtu, 11 April 2015

Yang Menghalangimu Menikah

Gambar ini diambil dari: pernikahanislami99.blogspot.com


"Bukankah kami telah lapangkan untukmu dadamu?, dan Kami telah menghilangkan daripadamu, yang memberatkan punggungmu?"
 (Q.S. Al - Inshiroh: 1-3)

Percayakah engkau bahwa Allah SWT itu Maha Penolong? Percayakah engkau bahwa Dia adalah satu - satunya Dzat yang tiada ingkar? Bahkan Dia tidak akan pernah menyesatkan hamba-Nya walaupun Dia tahu hamba-Nya telah ingkar kepada-Nya. Lantas mengapa masih tersimpan sejuta keraguan dalam benakmu? Menikah, iya menikah. Apa yang menghalangimu menikah? Bukankah menikah merupakan sunnah Rasulullah SAW yang didalamnya terdapat berjuta berkah dan janji Allah SWT yang tentunya baik? Yuk simak tulisan saya berikut ini.

Allah SWT pasti melapangkan segala urusan hamba-Nya apabila itu baik dan halal. Mengingat bahwa Dia adalah Maha Penolong, bahkan dalam surah diatas telah jelas dijelaskan bahwa Allah pasti meringankan beban berat pada hamba-Nya. Salah satunya yaitu menikah, Allah telah menjanjikan pertolongan kepada hamba-Nya yang menikah. Allah Maha Kaya lagi Maha Luas, apapun mampu Allah berikan termasuk rezeki yang berlimpah. Jika dikatakan bahwa rezeki hanyalah materi semata maka hal itu sangat disayangkan, karena Allah menyediakan begitu banyak rezeki udara untuk bernafas misal. Jadi ketahuilah sahabat, Allah sesungguhnya selalu beserta hamba-Nya namun tergantung padamu apakah mau mendekat dengan-Nya atau tidak?

Nah, apa yang menghalangimu menikah?
Pikirkanlah kembali sahabatku, jika niatmu itu baik, tulus, dan yang terpenting untuk menolong agama Allah maka yakinlah Dia ada untukmu bahkan tanpa kau minta. Apa yang menghilangimu menikah? aku sih yakin, pasti sahabat dan sahabati sekalian sudah siap, buktinya kita pacaran kesana kemari. Entah berapa mantan pacar yang ditinggalkan, entah berapa manusia yang kita sakiti hatinya, entah berapa manusia yang kita kecewakan karena pacaran, entah berapa pula jalinan ukhuwah menjadi renggang bahkan terputus karena ikatan yang tiada jelas ujungnya itu. Entahlah sahabatku, banyak -banyak istigfar saja. 

"Aku pacaran tapi belum siap nikah, masih mau menikmati masa muda, aku belum bisa membalas jasa orang tuaku, dan yang pasti aku belum siap!"

Sahabat, kenapa pacaran kalau belum niat menikah. Bukan maksud saya menggurui dan mengklaim bahwa saya orang baik. Sama sekali bukan untuk itu saya menulis artikel ini, saya hanya ingin mengatakan apa yang selama ini menjadi cambuk bagi diri saya sendiri, barangkali kita memiliki masalah yang sama. 
Sahabatku, coba dipikirkan kembali, bagaimana bisa kita menikmatimasa muda dengan jalan berpacaran? dengan cara "mengikatkan" diri kita pada hubungan yang masih "awang - awang"? Bukan apa - apa, hanya saja saya merasa sedih. Jika memang sahabatku mau menikmati masa muda, cobalah keluar dari ikatan itu. Jadi aktivis di kegiatan sosial, jadi seseorang yang berguna bagi masyarakat. Awalnya memang sulit bagi sebagian orang, mungkin ada yang depresi, sakit hati, bahkan dendam, Astagfirullah. Mungkin itu beberapa dari sekian banyak alasan mengapa Allah melarang kita pacaran. Namun,bagi sebagian orang yang mengerti maka keluar dari ikatan itu akan mudah. Seperti saya, beberapa waktu lalu saya sempat "diselamatkan" Allah dari ikatan itu, iya dalam arti lain "putus hubungan". Putus hubungan bukan bencana, justru disitulah keselamatan kita ditunjukkan kembali oleh Allah. Saya paham betul bagaimana tujuan seseorang itu, yakni untuk menyelamatkan diri kita dari perbuatan munkar. Ya, munkar apa enggaknya tergantung kamu dong, kalau kamu pacarannya pakai nafsu yah jelas lah itu salah!. Sahabatku, pacaran itu sudah pasti mengandung nafsu disadari ataupun tidak. 

Aku belum membalas jasa orang tuaku?
Sahabat yakin bicara seperti itu? Jika seluruh kekayaan di bumi ini kita persembahkan kepada kedua orang tua kita, percayalah itu belum cukup membalas jasa mereka. Tapi setidaknya aku ingin membahagiakan mereka dahulu! Membahagiakan apa sahabatku? Apakah selama ini kamu tidak mampu membahagiakan mereka? Kemana saja kita selama ini? Ataukah yang sahabat fikirkan membalas itu dari finansial? Orangtua kita tak butuh uang sahabat, mereka butuh anak - anak yang baik disisinya dan NYA. mengerti kan? Apakah dengan menikah itu berarti kebahagiaan mereka atasmu berkurang? sama sekali tidak. Jika memang sahabatku ingin membahagiakan kedua bidadari itu maka lakukan sekarang, tak perlu menunggu nanti, kapan? ketika sudah lulus kuliah? atau ketika kekayaan yang kalian berikan dirasa cukup untuk membalas jasa keduanya? Astagfirullah. Perbanyaklah istigfar sahabat.

Aku belum siap, aku masih muda!
Belum siap kok pacaran. Itu apa yang ada dalam hatiku.Sempat bahkan beberapa hari lalu aku memposting nasihat ustadz Felix Siauw tentang meninggalkan pacaran dan otomatis semua orang berkomentar "emangnya kamu gak pacaran? kok munafik sih? pacar kamu gak kamu anggap?" dan banyak lagi komentar sinis terlontar pada saya. Dan disitulah saya benar - benar tercambuk, bukan tersinggung tetapi merasa sedih. 

Jika dikatakan apakah saya tidak pacaran? maka saya jawab pernah. Lantas apa lagi yang menghalangimu menikah? bukankah menikah itu dibanggakan Rasulullah SAW? ataukah sahabat menunggu "musibah" baru menikah? Astagfirullah. Jika kemapanan finansial yang dicari maka ayah saya selalu berkata "Kapanpun kamu mau nikah, maka ayah siap. Urusan uang tak usah kau fikirkan nak, kamu tahu hukum Agama lebish banyak dari ayah. jika kamu menikah Allah SWT pasti menolong, jika kamu kekurangan kelak katakan pada ayah. maka semampu ayah, pasti ayah bantu. Jangan pernah memikirkan takut kehabisan uang, jika kamu berusaha Allah SWT pasti menolong" kata itu yang membuat saya tergetir. Serasa ditusuk bilah, betapa suci cinta kedua orang tuaku terhadapku. :) Dan jika orang tua yang melarang atau memintamu menunda niatmu, maka lobby mereka dengan baik dan santun, jangan membuat keduanya tersinggung, apabila yang hendak kau nikahi adalah laki - laki shaleh atau wanita shaleha maka pantas kau perjuangkan. Bukan diperjuangkan dengan di pertahankan dalam pacaran, melainkan dijaga kehormatannya dari jauh demi Akad yang suci mengguncang 'Arsy.

Sahabat ingatlah, Allah tak pernah menjerumuskan hamba-NYA melainkan kita sendiri yang menjerumuskan diri sendiri. Dan apakah tidak takut dengan azab-Nya? sungguh azab-Nya sangat pedih. Bismillah, yuk berbenah. Hamasah. Maafkan aku Yaa Rabb apabila terdapat kesalahan dalam tulisan ini. 

Kamis, 19 Maret 2015

Hanya Saja Aku

Gerimis menyulam dingin dalam bulirnya. Tersibak sedikit demi sedikit rasa lelah menghujam jiwa sedia kala. Aku terperanga dalam kuncah makna mengucap rindu dalam selubung syahdu mendayu puing getir diarum gelombang kecil. Aku terdiam sejenak menangkal segala pikir menghujam hati, menangkal segala buruk merajam pecah kristal memuing cinta.

"Apa peduliku!" seucap memanas ilalang mengabu - abu.

"Mungkin hanya denganku!", fikirku meledak sekenanya.

Tiada berpagut aku dalam diorama, peduli ku tukar kasih mengembara tiada tujuan pula singgasana.

"Apa peduliku!" ucapmu sekenanya.

Kembali terbangun aku  merajut fikir kian buram. Aku terpatri. Hanya saja aku jengah mengulas rindu. Hanya saja mungkin hanya aku terabai kasih. Entah benar entah dilema. Hati terguncang mengungkap perih. Entah benar entah banyang mengusik mengulas raga. Aku bungkam tiada percaya. Bertaraf kasih beradu percaya. Hanya saja aku .....

Sabtu, 24 Januari 2015

PARODI PENDIDIKAN DI INDONESIA



(Sragen, 25 Januari 2015) Sistem pendidikan di Indonesia memang sangat memprihatinkan, karena terlalu banyak lika –liku didalamnya. Mulai dari perubahan kurikulum yang tidak tuntas, perubahan sistem pendidikan yang tidak teratur, sehingga dapat dirasakan bahwa pendidikan di Indonesia ini seolah – olah sebuah bola ping – pong yang sedianya dioper kesana kemari dengan menteri – menteri pendidikan sebagai pemukulnya. Lucu memang, ketika suatu yang sangat sakral disamakan dengan sebuah permainan atau olahraga, namun bagaimana lagi? Ibarat anak kecil, rakyatpun tidak bisa dibodohi dengan cara menunjukkan A tetapi harus dikatakan B, ironi sekali memang.
Kurikulum pendidikan yang masih hangat diberhentikan oleh pemerintahan baru yang dahulunya digagas oleh Menteri Pendidikan di Indonesia, yang pada dasarnya merupakan suatu gagasan yang luar biasa walaupun memang membutuhkan sedikit pemupukan agar dapat menciptakan hasil dari implementasi yang luar biasa pula. Tetapi, seperti kebakaran jenggot pendidikan di Indonesia mengimplementasikan Kurikulum 2013 ini, atau bisa dikatakan dari persiapan hingga pelaksanaan kurikulum tersebut terlalu dibuat ribet, mulai dari distribusi buku paket, sosialisasi, sampai kepada kegiatan belajar mengajar yang menyangkut silabus, RPP, materi, bahkan sampai pada metode belajarnya. Sungguh sangat disayangkan bukan? Pembelajaran yang sebenarnya mampu menjawab pernyataan orang – orang terhadap pendidikan dimana dikatakan Siswa di Jepang sudah membuat robot, Indonesia masih mumet belajar teori! Setidaknya itu yang banyak dikeluhkan rakyat tetapi rakyat sendiri tidak mau diatur, mengenaskan. Mampu mengkritik habis – habisan tetapi tidak memiliki keterbukaan cukup untuk menerima perubahan. Akan percuma jika harus menuruti kemauan rakyat tentang pendidikan, karena menurut saya sebelum dilaksanakan sebuah sistem, tentunya penggagas sistem itu telah memikirkan matang – matang dampak yang akan diperoleh dalam sistem yang akan dijalankan tersebut. Jika dapat diumpamakan, maka sistem pendidikan itu sama dengan rumah tangga yang pada awal perkembangannya pasti terdapat berbagai ujian dan cobaan hingga akhirnya terbentuklah keharmonisan didalamnya, dan apabila terjadi suatu ketidak sepahaman antara satu dan yang lain maka perlu pengukuhan pemahaman kepadanya bukan malah saling mengeluhkan satu sama lainnya. Dan agaknya perceraian antara kurikulum ’13 dengan sistem pendidikan memang terjadi karena adanya eluhan satu pihak dengan pihak yang lainnya yang mengisyaratkan kegagalan dan bukannya kebangkitan sehingga sistem pendidikan di Indonesia memilih kembali kepada cinta lamanya.
Disamping permasalahan kurikulum pendidikan, Indonesia juga dibuat deg-degan dengan rencana penghapusan Ujian Nasional (UN) yang sudah lama menjadi rutinan akhir pembelajaran di Indonesia, dan begitu mendengarkan ungkapan itu seperti ini hati saya berkata Mau jadi apa generasi bangsa ini?. Bagaimana saya tidak berfikiran seperti itu? Dua belas tahun sudah saya berada di lembaga pendidikan formal, dari sekolah tingkat dasar sampai kejuruan tentunya saya mengetahui apa yang ada difikiran para pelajar dan para guru, Are You Kidding Me, Mengenaskan! Tegas saya dalam hati. Ketika saya berada di sekolah begitu banyak teman yang mengeluh Sekolah bertahun – tahun tetapi nasib kita ditentukan dalam tiga hari! Eluhan pasaran itu dilontarkan begitu banyak siswa dan siswi di sekolah, selain itu guru – guru juga was –was hingga akhirnya mereka sibuk menilai siswa dan siswinya masing – masing. Tidak sedikit pula yang mencoba menyamakan sistem pendidikan di Indonesia dengan pendidikan di luar negeri dengan mngetakan Di luar negeri saja tidak ada UN tetapi Indonesia? Miris sekali keluhan ini saya dengar, pendidikan itu bukan tentang bagaimana kita menyamakan dengan yang lainnya tetapi dengan memberi perubahan yang pas dan sesuai walaupun memang sedikit memaksa, namun bukan berarti dengan perubahan itu serta merta bisa menghapus suatu elemen didalamnya. Jika rakyat Indonesia mau ngaca maka berkacalah, jika UN dihapuskan dengan keadaan pendidikan yang seperti ini, dimana kejujuran dalam pendidikan dijunjung tinggi katanya! Maka pemerintah mendapatkan hasil berupa apa dengan upaya pemerintah “Mencerdaskan kehidupan bangsa?” mendapat generasi yang semakin naik atau naik? Mungkin benar di luar negeri tidak ada istilah UN karena apa? Karena mereka terbiasa disiplin dari mulai menteri, pendidik, sampai pada peserta didik bahkan seluruh stake holder yang ada dalam pendidikan itu sendiri, sedangkan Indonesia Peraturan dibuat untuk dilanggar! Itu semboyan Indonesia yang tidak bisa dipungkiri telah lama melekat pada diri rakyat Indonesia. Miris sekali.
Maka, ada baiknya ocehan ditelan sejenak, perubahan bukan untuk menyiksa walau awalnya dilakukan secara terpaksa, untuk apa mengoceh menuntut perubahan tetapi tidak memiliki sifat terbuka? Karena semua itu hanya akan menunjukkan kebodohan yang sesungguhnya, dengan kata lain jika benar – benar mauberubah tidak usah banyak mengeluh, mengeluh boleh tetapi jangan terlalu sering. Tugas kita hanya Action bukannya Acting, berlaku seperti penyulut perubahan padahal sebenarnya tiada yang dilakukan. Sistem pendidikan di Indonesia membutuhkan penanganan khusus bukan pemahaman terputus terima baik maka hasil baik, penerimaan buruk maka hasil buruk, itulah suggesti yang tepat.
Demikian itu artikel yang saya tulis, apabila terdapat kesalahan yang disengaja saya memohon maaf, karena hati memiliki rasa dimana ia meronta ketika rasa tak tersampai padanya. Semoga bisa menjadi renungan bagi siapapun yang bernaung pendidikan dan bermanfaat bagi kita semua. (Rika Meriana)

Rabu, 12 November 2014

Tafsir Ayat - Ayat Tentang Pendidik




KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan banyak nikmat hidup dan nikmat iman serta kesempurnaan dibandingkan dengan makhluk Allah yang lain. Sebagai manusia kita wajib untuk senantiasa mensyukuri nikmatnya dan berusaha membalas semua kebaikan yang Allah berikan kepada kita semua dengan cara menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seorang Rosul yang di dalam dirinya terdapat suri tauladan yang baik bagi kita semua.
Dalam makalah yang berjudul “Tafsir ayat-ayat tentang pendidik” Alhamdulillah telah bisa disusun dengan mengumpulkan berbagai macam referensi. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh karena itu, penyusun mohon maaf. Besar harapan kami makalah ini dapat berguna untuk semua orang khususnya mahasiswa STIT Madina Sragen.


Sragen, 7 Oktober 2014

Penyusun


DAFTAR ISI


Kata Pengantar................................................................................................... 2
Daftar Isi.............................................................................................................. 3
BAB I: Pendahuluan
1.         Latar Belakang Masalah......................................................................... 4
2.         Rumusan Masalah.................................................................................. 4
3.         Tujuan..................................................................................................... 5
BAB II: Pembahasan
1.         Definisi dan Tugas Seorang Guru.......................................................... 6
2.         Sifat – sifat yang dimiliki Guru.............................................................. 8
3.         Kompetensi Yang Harus Dimiliki Seorang Guru................................... 8
4.         Tafsir Ayat – ayat Tentang Guru........................................................... 9
BAB III: Kesimpulan.......................................................................................... 11
Daftar Pustaka.................................................................................................... 12

      
BAB I
PENDAHULUAN


A.       Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukkan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Melalui reformasi pendidikan, pendidikan harus berwawasan masa depan yang memberikan jaminan bagi perwujudan hak-hak azasi manusia untuk mengembangkan seluruh potensi dan prestasinya secara optimal guna kesejahteraan hidup di masa depan.
Guru adalah salah satu unsur manusia dalam proses pendidikan.[1] Dalam proses pendidikan di sekolah, guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagai pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri.
Akan tetapi pada era modern ini muncul sikap-sikap guru yang mulai melenceng. Beberapa pendidik kurang mengetahui akan tugas dan kewajiban mereka sehingga sangat berpengaruh besar dalam perkembangan kualitas anak didik mereka. Meskipun begitu tidak sedikit pula pendidik yang mengutamakan kualitas anak didik nya. Seperti hal nya yang di jelaskan pada ayat-ayat suci Al-Qur’an mengenai tafsir pendidik.
B.        Rumusan Masalah
1.         Apa pengertian dan tugas seorang guru dalam pendidikan?
2.         Bagaimana sifat – sifat yang harus dimiliki oleh seorang pendidik?
3.         Apa Kompetensi yang harus dimiliki seorang guru?
4.         Ayat-ayat apa saja dalam Al-Qur’an yang menjelaskan tentang pendidik?
C.       Tujuan Penulisan
Tujuan Penulusan makalah yang berjudul “Tafsir ayat mengenai pendidik” adalah agar pembaca dapat mengetahui pendidik dalam prespektif islam.



BAB II
PEMBAHASAN


A.       Definisi dan tugas seorang guru
1.         Pengertian guru / pendidik
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti seseorang yang memiliki profesi mengajar[2], sedangkan di dalam bahasa Arab guru bisa disebut dengan Al – Mudarris yang dapat diartikan sebagai seseorang yang mengajar atau memberikan pengajaran atau juga dapat disebut Ustadz yang berarti seseorang yang mengajar dalam bidang Agama Islam.
Pada hakekatnya Allah SWT merupakan satu – satunya guru yang sebenarnya, seperti yang telah disebutkan dalam Al –Qur’an Surat Al – ‘Alaq: 4 – 5 yaitu:
الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ 4
عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ 5
Artinya: “Yang Mengajarkan (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”[3]

Dalam ayat – ayat tersebut sudah diterangkan bahwa Allah SWT merupakan yang pertama mengajarkan manusia tentang segala sesuatu yang belum diketahuinya.Sehingga dapat di katakan bahwa manusia hanyalah wakil Allah SWT dalam menyampaikan ilmu – ilmu – Nya dibumi mengingat tugas manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi.
Sehingga dapat di tarik kesimpulan bahwa guru merupakan seseorang yang diutus oleh Allah SWT untuk mendelegasikan tugas mengajarkan ilmu – ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT.
2.         Tugas seorang guru / pendidik
Seorang guru memiliki peranan dan tugas yang sangat penting di dalam suatu proses pendidikan, selain harus mengajar dan mendidik peserta didik guru juga harus menunjukkan kewibawaannya kepada peserta didiknya karena guru tidak hanya dijadikan contoh ketika berada didalam ruang, tetapi segala yang dilakukan guru diluar itu merupakan gambaran dari kewibawaan dan ilmu yang di miliki seorang guru. Sehingga, menjadi seorang guru harus memiliki kesadaran terhadap posisi di dalam lingkup pendidikan maupun masyarakat karena pada umumnya guru selalu dijadikan sorotan dalam lingkup manapun[4].
B.         Sifat – sifat seorang pendidik
Seorang pendidik selain harus mampu menguasai jalannya kegiatan belajar mengajar juga harus mengerti bagaimana sifat – sifat terhadap peserta didik[5]. Berikut ini beberapa sifat seorang pendidik kepada peserta didik:
1.         Sifat lemah lembut dan kasih sayang
Dalam menberikan pendidikan kepada para peserta didik hendaknya pendidik mengimplementasikan sifat ini kepada peserta didiknya karena ketika seorang pendidik menggunakan jalan kekerasan maka yang ada para peserta didik akan merasa tertekan kemudian terjadilah perselisihan.
2.         Mengembalikan ilmu kepada Allah SWT
Menjadi seorang pendidik bukan berarti ia harus merasa paling mampu menguasai ilmu – ilmu yang ia ajarkan kepada peserta didiknya. Maka menjadi seorang pendidik harus rendah hati mengingat ia hanyalah perantara dan bukan pemilik ilmu yang tengah ia ajarkan.
3.         Memperhatikan keadaan peserta didik
Seorang peserta didik harus mampu memahami bagaimana kondisi peserta didik baik secara psikis maupun secara fisik. Seorang peserta didik tidak di perkenankan memberikan pendidikan melebihi batas kemampuan peserta didik.
4.         Berlaku dan berkata jujur
Menjadi seorang pendidik harusnya memiliki sifat jujur. Ketika seorang pendidik itu tidak boleh mengada – ada ketika ia tidak mengetahui mengenai suatu hal hanya untuk menjaga gengsi keilmuan sehingga hal itu akan menyesatkan peserta didik. Menjadi seorang pendidik haruslah mau mengakui dan mengatakan ketika ia tidak mengetahui tentang suatu hal.
5.         Pendidik harus adil
Seorang pendidik harus mampu bersikap adil kepada para peserta didiknya dengan cara mampu memahami keadaan individu peserta didik sesuai dengan bagaimana kemampuannya. Sehingga kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Selain itu, seorang pendidik yang adil akan lebih disukai oleh peserta didik.
6.         Pendidik harus berniat ikhlas
Seorang pendidik seharusnya menyampaikan ilmu dengan hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT. Tidak menjadikan imbalan seperti gaji sebagai tujuan utama dalam mengajar. Menanamkan pada diri masing – masing pendidik untuk mengerti bahwa menjadi seorang pendidik bukanlah sekedar profesi tetapi merupakan suatu tanggung jawab untuk menyebarkan ilmu – ilmu Allah SWT sehingga ilmu yang disalurkan kepada.
C.       Kompetensi yang harus di miliki seorang guru
Ada beberapa kompetensi yang harus di miliki oleh seorang guru dalam mendidik, yaitu sesuai dengan UU pasal 8 No. 14 th 2005 tentang pendidikan nasional bahwa seorang pendidik / guru harus memiliki kompetensi sosial, kepribadian, profesional dan pedagogik guna meningkatkan kualitas dan martabat pendidikan nasional[6]. Dari ke empat kompetensi tersebut dapat di diskripsikan sebagai berikut:
1.         Sosial
Dalam kompetensi ini seorang guru diharapkan dapat menjadi pemicu semangat peserta didik dengan memberikan pengajaran tentang berbahasa dan tetap memegang norma – norma dalam bergaul baik di ligkungan sekolah maupun di luar lingkungan sekolah.
2.         Kepribadian
Seorang guru harus memiliki kepribadian yang berwibawa dan mampu membawa diri, karena guru merupakan sorotan dan panutan dari peserta didiknya.
3.         Profesional
Dalam kompetensi ini seorang guru harus mampu menguasai situasi ketika mengajar dan tidak, selain itu guru juga harus menguasai materi dan juga memiliki intepretasi yang tinggi sehingga kegiatan belajar mangejar dapat berlangsung dengan baik.
4.         Pedagogik
Guru harus memberikan pemahaman kepada peserta didiknya dengan cara mengaktualisasikan wawasan yang ia miliki kedalam pengajaran yang dialogis. Mampu memanfaatkan teknologi, mengembangkan kurikulum dan juga mengevaluasi pembelajaran.
D.       Tafsir ayat -  ayat tentang pendidik
Ada beberapa ayat – ayat yag menjelaskan mengenai pendidik, berikut adalah ayat – ayat tentang pendidik / guru:
1.         Al –Qur’an Surah Ar – Rahman ayat 1 – 4[7])
Surah Ar – Rahman merupakan surah ke 58 yang merupakan surah Madaniyah karena surah ini turun setelah Nabi SAW hijrah, surah ini terdiri dari 78 ayat.
Oó¡Î0«!$#Ç`»uH÷q§9$#ÉOŠÏm§9$#
  اَلرَّحْمَنُ 1 عَلَّمَ الْقُرْاَنَ 2 خَلَقَ الْاِنْسَان 3 عَلَّمَهُ الْبَيَانَ4

Artinya: : 1. (Allah) yang Maha pengasih, 2. yang telah mengajarkan AlQuran. 3. Dia menciptakan manusia. 4. mengajarnya pandai berbicara.

Arti Perkata

 خَلَقَ
ÇËÈt الْقُرْآنَ
 عَلَّمَ
ÇÊÈ الرَّحْمَنُ
(yang telah menciptakan)
Al-Qur’an (kepada siapa saja yang dikehendaki)
Yang telah mengajarkan
Allah yang Maha Penyayang


ÇÍÈt الْبَيَانَ
 عَلَّمَهُ
ÇÌÈt الْإِنْسَانَ

kemampuan menjelaskan (Al-Qur’an)
Dia mengajarkannya (Manusia itu)
Manusia

                                 Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di dalam Kitab al-‘Azhamah, yang bersumber dari ‘Atha’. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Syaudzab, dan diterangkan bahwa ayat ini (ar-Rahman: 46) turun berkenaan degan Abu Bakar ash-Shidiq. Bahwa suatu hari Abu Bakr ash-Shidiq menerangkan hal kiamat, timbangan, syurga, dan neraka. Kemudian dia menambahkan bahwa dirinya ingin menjadi rerumputan yang dimakan binatang, dan tidak diciptakan Allah (sebagai manusia). Ayat ini (ar-Rahman: 46) turun sebagai kabar gembira bagi orang yang takut menghadapi peradilan Allah, dan karenanya mempersiapkan diri dengan melaksanakan segala perintah-Nya[8].
                     Dalam Ayat dari surah Ar – Rahman tersebut Arti kata “Al – bayyan” tersebut adalah bicara karena siyaq dalam pengajaran Al – Qur’an oleh Allah Ta’ala adalah membacanya.Dan hal itu berjalan dengan pengucapan artikulasi, serta memudahkan keluarnya huruf secara jelas melalui jalan – jalannya masing – masing dari kerongkongan, lidah maupun kedua bibir sesuai dengan keragaman artikulasi dan jenis hurufnya[9].

Seperti yang sudah di jelaskan dalam surah Ar – Rahman tersebut bahwa Allah SWT telah memberikan isyarat agar manusia itu mau mengajarkan sesuatu kepada sesamanya.Seperti yang ditunjukkan pada ayat ke 4 tersebut bahwa Allah mengajarkan manusia itu pandai berbicara.Sehingga dapat dikatakan bahwa Allah memberikan tanggung jawab kepada manusia untuk melakukan tugas khalifah yaitu menjaga, dan menyebarkan ilmu Allah Ta’ala.
2.         Al –Qur’an Surah An – Najm ayat 5 – 6[10])
Surah An – Najm merupakan salsh satu surah makiyyah yang terdiri dari 62 ayat. Surah An – Najm berarti bintang.
ÉÇÉOŠÏm§9$#`»uH÷q§9$#«!$#Oó¡Î0
عَلَّمَهُ,شَدِيدُالقُوَى 5 دُومِرَّ ةٍفَآ سْتَوَى 6
Artinya: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli.”

Arti Perkata.
ÇÏÈ فَاسْتَوَى
 مِرَّةٍ
ذُو
 الْقُوَىÇÎÈ
ß شَدِيدُ
عَلَّمَهُ
maka (Jibril) menampakkan dalam rupa asli
keteguhan
Yang mempunyai
Kuat (perkasa)
(Jibril) yang sangat
Mengajarkan kepadanya

Tafsir dari ayat tersebut yaitu sebagai berikut; Dalam ayat ini, selanjutnya Allah SWT menerangkan bahwa Nabi Nabi Muhammad Saw (kawan mereka itu ) diajari oleh Jibril As. Jibril itu sangatlah kuatnya, baik ilmunya maupun amalnya.
Dalam firman Allah SWT SWT dijelaskan :

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ 19, ذِي قُوَّةٍ عِنْدَ ذِي الْعَرْشِ مَكِينٍ 20, مُطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ 21

Sessungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah SWT yang dibawa oleh) utusan yang mulia (jibril), yang mempunayi kekuatan , yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah SWT yang mempunyai arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. At-Takwir 81:19-21
Kemudian Nabi Muhammad Saw mempelajarinya dan mengamalkannya . Ayat ini merupakan jawaban dari perkataan mereka yang menatakan bahwa Nabi Muhammad Saw itu hanyalah tukang dongeng yang mendongengkan dongengan –dongengan (legenda-legenda) orang-orang tedahulu. Jelasalah bahwa Nabi Muhammad Saw itu bukan diajari oleh seorang manusia, tetapi ia diajari oleh Jibril As yang sangat kuat.
Allah SWT menerangkan lagi dalam ayat ini, bahwa Jibril As itu mempunyai kecerdasan dan kekuatan yang luar biasa. Seperti dalam riwayat bahwa ia telah pernah membalikkan perkampungan Nabi Lut kemudian mereka diangkat ke langit lalu dijatuhkan ke bumi. Dan apabila ia turun ke bumi hanya dibutuhkan waktu sekejap mata. Lagi pula ia dapat berubah bentuk dengan berbagai rupa.


BAB III
KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini, bahwa guru/pendidik merupakan seseorang yang diutus oleh Allah SWT untuk mendelegasikan tugas mengajarkan ilmu – ilmu pengetahuan yang diberikan oleh Allah SWT. Sehingga masing-masing guru/pendidik memiliki kompetensi yang berbeda-beda yang disebabkan sangat kompleksnya ilmu yang ada. Pendidik/Guru juga merupakan contoh konkret bagi tingkah laku, moral dan pola pikir peserta didik. Segala hal yang berkaitan dengan pendidik/guru telah diatur tidak hanya dalam undang-undang akan tetapi juga dalam Al-Qur’an.


DAFTAR PUSTAKA


Aziz Erwati. 2003. Prinsip  - prinsip Pendidikan Islam. (Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri)
Fakhrudin arif. Iramah Siti.Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka Al-Hidayah.(Banten: PT.Kalim)
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).2008 (ebook)
Nasution S. 1999. Sosiologi Pendidikan cetakan III.(Jakarta: Bumi Aksara)
Pemerhati Guru.2013.Kompetensi Yang Harus Dimiliki Guru.(http://panduanguru.com/kompetensi-yang-harus-dimiliki-guru/). Diakses Pada Tanggal 4 Oktober 2014
Shaleh dkk.2013.Asbabun Nuzul Surah Ar – Rahman.(https://alquranmulia.wordpress.com/2013/01/15/asbabun-nuzul-surah-ar-rahman/), Diakses pada tanggal 5 Oktober 2014
Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. (Jakarta: Rineka Cipta)
Tafsir Ibnu Katsir (ebook)
Umar, Bukhari. Hadis Tarbawi Pendidikan dalam Prespektif Hadis. Jakarta. Amzah.2012



[1]Djamarah Bahri Syaiful,Psikologi Belajar,(Jakarta: Rineka Cipta,2002) h. 73

[2]Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2008, hlm 497 (ebook)
[3]Erwati Aziz, Prinsip – prinsip Pendidikan Islam, Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, 2003,  hlm 30
[4]S. Nasution, Sosiologi Pendidikan. Cetakan II, Jakarta: Bumi Aksara, 1999, hlm. 91
[5] Bukhari Umar, Hadits Tarbawi Pendidikan dalam Perspektif Islam, Jakarta: Amzah, 2012
[6]Pemerhati Guru, Kompetensi Yang Harus Dimiliki Guru, 2013, (http://panduanguru.com/kompetensi-yang-harus-dimiliki-guru/), Diakses Pada Tanggal 4 Oktober 2014
[7]Arif Fakhirudin,Siti Iramah,Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka Al-Hidayah,  Banten: PT.Kalim
[8]Shaleh dkk, Asbabun Nuzul Surah Ar – Rahman, 2013, (https://alquranmulia.wordpress.com/2013/01/15/asbabun-nuzul-surah-ar-rahman/), Diakses pada tanggal 5 Oktober 2014
[9]Tafsir Ibnu Katsir
[10]Fakhrudin arif. Iramah Siti,Al-Qur’an Tafsir Per Kata Tajwid Kode Angka Al-Hidayah,  Banten: PT.Kalim