Aku
wanita dalam perselisihan. Aku terjebak diantara reruntuhan hidup, menyatu
dalam kegelisahan jiwa yang semakin menyiksa. Kisahku tak selalu berakhir indah
layaknya dongeng – dongeng yang tersaji di tumpukan cerita fiksi, akupun tak
berharap demikian ….. entah apa ? entah mengapa ? aku hanya berusaha mengikuti
jalan yang di gariskan Rabb ku terhadap diriku. Karna aku meyakini kebenaran
firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa “ Dia membiarkan dua lautan mengalir
yang kemudian keduanya bertemu ” ( Q.S Ar – Rahman : 19 )
Beberapa bulan lalu . . . .
Temanku mengirimkan pesan “ ana,
mau ikut telfonan sama teman – teman? “. Aku menerima tawaran itu. Ketika
di telfon, aku di perkenalkan kepada teman – teman Nia ( yang menelfonku) yang
hanya ku kenal sekilas sebelumnya. Di antara suara – suara itu entah mengapa
aku merasa nyaman dengan hanya mendengar satu suara “Adi”. Kita berbincang
sejenak dan rasanya kurang. Dan sejak
itulah semuanya berawal.
Beberapa hari setelah itu . . . .
Aku
termasuk seorang yang aktif di salah satu social media. Aku juga bertemu dengan
Adi disana, kita saling mengomentari status, berkirim pesan, bahkan berbalas
status – status di beranda. Kita bercanda dan sesekali menanyakan satu sama
lain dan saat itulah aku merasa lebih dan lebih nyaman lagi. “ . . . Dan
Allah Maha Mengetahui segala isi hati “ (Q.S At – Taghabun : 4) .
Aku meyakini bahwa kenyamanan itu yang
nantinya akan menuntunku seperti kedua
lautan yang akhirnya bersatu. Entah bagaimana cara cinta merasuk melalui celah
celah hati, aku senantiasa bahagia ketika ku terima bahwa ia merasakan
kenyamanan yang sama. Duka ku tersisih, bahagia aku diantara ruruntuhan hidup
ini.
Seakan mengalir dengan sendirinya
seluruh hasrat ini, membuka sedikit demi sedikit celah hati yang kian lama
tertutup rapih. Aku terdiam terkadang menikmati apa yang tengah ada kala ini.
Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin ( Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam)
NYAMAN.
Dia menambahkan kenyamanan bagiku tiap waktunya. Bertutur kata manja di sela –
sela indera di keheningan malam, berbaur kami menyambut pagi. Membicarakan hal
yang biasa namun terdengar menarik. Entahlah rasa hati tak ingin lari walau
sejengkal. Aku merasa sangatlah nyaman di antara kebersamaan ini.
TENTANG DIA. Dia pernah mengatakan
bahwa “ hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan jarak jauh adalah saling
percaya “ . dia tak pernah memintaku untuk memperhatikannya walau aku tau bahwa
sebenarnya dia juga ingin di perhatikan. Entahlah, baru beberapa waktu aku
bersamanya namun aku merasa bahwa bersamannya
adalah sesuatu yang tak lagi awam bagiku. Seakan kami telah lama “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan
matahari sebagai pelita?” ( Q.s Nuh
: 16 ) . aku tertawa kecil ketika mengingatnya seolah aku benar – benar ada
disampingnya. Aku teraniaya rindu, menahan segala gejolak yang ada di dalam
sebuah perasaan. Aku tak pernah merasa sepi walau ia tak tengah bersamaku, aku
selalu merasa bahagia seolah suara – suara manjanya selalu menggelitik di
telingaku. Aku tak mampu mendeskripsikan hati, mengelola kata untuk mencurahkan
segala yang aku rasakan terhadapnya.
Aku
seolah berada disisi lain dunia
Membawanya
menikmati apa yang ada
Aku tak pernah
merasa demikian
Merindukan
ruang yang ada di lain arah
Aku seakan
ingin terbang
Mengarungi
celah awan
Meneteskan
peluh yang menjadi hujan
Menghidupinya
melalui kasih dalam butiran peluhku
Aku
senantiasa bermimpi dapat bersamanya seolah seluruh yang ada ini tak ingin
terlepas dari cengkramannya. Entah apa.
AKU MENCERITAKAN DIA. Kuceritakan
semua yang ada pada dirinya melalui pita suaraku yang aku yakin orang akan
bahagia mendengarkannya. Namun ternyata salah, tak semua bahagia bahkan aku di
anggap tak memiliki perasaan yang jauh lebih baik. Tertusuk aku, ku katakan
bahwa aku tak main – main, “karna yang main – main hanyalah untuk anak kecil”.
Aku tersapu ombak, terhepas dam menabrakkan diri pada karang, aku hancur dan
puing – puing kehancuranku hilang entah kemana. Mungkin tersesat ? atau mungkin
telah lenyap dan tak mungkin lagi kembali?
Aku tak mengerti apa yang harus ku
katakana padanya, haruskah aku pergi tanpa kata? Atau mengatakan hal yang ku
tahu akan membuatnya berfikir bahwa semua ini tidaklah adil. ” Kaum
laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah
melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), .
. .” (Q.s An – Nisa’ : 34 ) seperti itulah aku merindukannya untuk selalu
membimbigku. hingga akhirnya aku katakan bahwa semua yang telah di jalani ini
mungkin akan sia – sia. Entahlah semua yang telah terasa nyaman seolah ingin
melonjak keluar dan berontak. Bahwa aku tak ingin menerima semua pernyataan
yang telah ada. Karena sungguh aku tak ingin mendengar apa yang sebenarnya ada.
Hingga akhirnya ku katakana bahwa :
Aku
tak pernah mengerti kenapa aku menangis?
Aku
mencoba terlepas namun sia – sia
Keterikatanku
membuatku menjadi semakin mengerti
Kedewasaan
tak hanya di ukur dari pola pikir
Namun
juga berawal dari hati
Ku
pahami semua sedikit demi sedikit
Menahan
sejenak rasa sakit yang berbaur rindu
Aku
mencintaimu dengan dewasa
Itu
artinya aku siap menerima semua yang hendak menyerang hati
Aku
tak pernah bergurau
Aku
tetapkan bahwa ini keseriusan
Aku
menerimamu dengan hati bahagia
Maka
jika Allah menginginkan aku menjauh
Akan
ku jalani dengan kebahagiaan yang bertahap
Karna aku yakin, kedua lautan yang
terpisah pada akhirnya akan bersama. J J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar