Senin, 28 April 2014

Ana Al- Mujadilla




Aku wanita dalam perselisihan. Aku terjebak diantara reruntuhan hidup, menyatu dalam kegelisahan jiwa yang semakin menyiksa. Kisahku tak selalu berakhir indah layaknya dongeng – dongeng yang tersaji di tumpukan cerita fiksi, akupun tak berharap demikian ….. entah apa ? entah mengapa ? aku hanya berusaha mengikuti jalan yang di gariskan Rabb ku terhadap diriku. Karna aku meyakini kebenaran firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala bahwa “ Dia membiarkan dua lautan mengalir yang kemudian keduanya bertemu ” ( Q.S Ar – Rahman : 19 )

Beberapa bulan lalu  . . . .
Temanku mengirimkan pesan “ ana, mau ikut telfonan sama teman – teman? “. Aku menerima tawaran itu. Ketika di telfon, aku di perkenalkan kepada teman – teman Nia ( yang menelfonku) yang hanya ku kenal sekilas sebelumnya. Di antara suara – suara itu entah mengapa aku merasa nyaman dengan hanya mendengar satu suara “Adi”. Kita berbincang sejenak dan rasanya kurang. Dan sejak  itulah semuanya berawal.
Beberapa hari setelah itu . . . .
Aku termasuk seorang yang aktif di salah satu social media. Aku juga bertemu dengan Adi disana, kita saling mengomentari status, berkirim pesan, bahkan berbalas status – status di beranda. Kita bercanda dan sesekali menanyakan satu sama lain dan saat itulah aku merasa lebih dan lebih nyaman lagi. “ . . . Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati “  (Q.S At – Taghabun : 4) .

Aku meyakini bahwa kenyamanan itu yang nantinya  akan menuntunku seperti kedua lautan yang akhirnya bersatu. Entah bagaimana cara cinta merasuk melalui celah celah hati, aku senantiasa bahagia ketika ku terima bahwa ia merasakan kenyamanan yang sama. Duka ku tersisih, bahagia aku diantara ruruntuhan hidup ini.
Seakan mengalir dengan sendirinya seluruh hasrat ini, membuka sedikit demi sedikit celah hati yang kian lama tertutup rapih. Aku terdiam terkadang menikmati apa yang tengah ada kala ini. Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin ( Segala puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam)
NYAMAN. Dia menambahkan kenyamanan bagiku tiap waktunya. Bertutur kata manja di sela – sela indera di keheningan malam, berbaur kami menyambut pagi. Membicarakan hal yang biasa namun terdengar menarik. Entahlah rasa hati tak ingin lari walau sejengkal. Aku merasa sangatlah nyaman di antara kebersamaan ini.

TENTANG DIA. Dia pernah mengatakan bahwa “ hal yang perlu diperhatikan dalam hubungan jarak jauh adalah saling percaya “ . dia tak pernah memintaku untuk memperhatikannya walau aku tau bahwa sebenarnya dia juga ingin di perhatikan. Entahlah, baru beberapa waktu aku bersamanya namun aku merasa bahwa bersamannya  adalah sesuatu yang tak lagi awam bagiku. Seakan kami telah lama “Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita?”  ( Q.s Nuh : 16 ) . aku tertawa kecil ketika mengingatnya seolah aku benar – benar ada disampingnya. Aku teraniaya rindu, menahan segala gejolak yang ada di dalam sebuah perasaan. Aku tak pernah merasa sepi walau ia tak tengah bersamaku, aku selalu merasa bahagia seolah suara – suara manjanya selalu menggelitik di telingaku. Aku tak mampu mendeskripsikan hati, mengelola kata untuk mencurahkan segala yang aku rasakan terhadapnya.
Aku seolah berada disisi lain dunia
Membawanya menikmati apa yang ada
Aku tak pernah merasa demikian
Merindukan ruang yang ada di lain arah
Aku seakan ingin terbang
Mengarungi celah awan
Meneteskan peluh yang menjadi hujan
Menghidupinya melalui kasih dalam butiran peluhku
Aku senantiasa bermimpi dapat bersamanya seolah seluruh yang ada ini tak ingin terlepas dari cengkramannya. Entah apa.

AKU MENCERITAKAN DIA. Kuceritakan semua yang ada pada dirinya melalui pita suaraku yang aku yakin orang akan bahagia mendengarkannya. Namun ternyata salah, tak semua bahagia bahkan aku di anggap tak memiliki perasaan yang jauh lebih baik. Tertusuk aku, ku katakan bahwa aku tak main – main, “karna yang main – main hanyalah untuk anak kecil”. Aku tersapu ombak, terhepas dam menabrakkan diri pada karang, aku hancur dan puing – puing kehancuranku hilang entah kemana. Mungkin tersesat ? atau mungkin telah lenyap dan tak mungkin lagi kembali?
Aku tak mengerti apa yang harus ku katakana padanya, haruskah aku pergi tanpa kata? Atau mengatakan hal yang ku tahu akan membuatnya berfikir bahwa semua ini tidaklah adil. ” Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), . . .” (Q.s An – Nisa’ : 34 ) seperti itulah aku merindukannya untuk selalu membimbigku. hingga akhirnya aku katakan bahwa semua yang telah di jalani ini mungkin akan sia – sia. Entahlah semua yang telah terasa nyaman seolah ingin melonjak keluar dan berontak. Bahwa aku tak ingin menerima semua pernyataan yang telah ada. Karena sungguh aku tak ingin mendengar apa yang sebenarnya ada. Hingga akhirnya ku katakana bahwa :
Aku tak pernah mengerti kenapa aku menangis?
Aku mencoba terlepas namun sia – sia
Keterikatanku membuatku menjadi semakin mengerti
Kedewasaan tak hanya di ukur dari pola pikir
Namun juga berawal dari hati
Ku pahami semua sedikit demi sedikit
Menahan sejenak rasa sakit yang berbaur rindu
Aku mencintaimu dengan dewasa
Itu artinya aku siap menerima semua yang hendak menyerang hati
Aku tak pernah bergurau
Aku tetapkan bahwa ini keseriusan
Aku menerimamu dengan hati bahagia
Maka jika Allah menginginkan aku menjauh
Akan ku jalani dengan kebahagiaan yang bertahap

Karna aku yakin, kedua lautan yang terpisah  pada akhirnya akan bersama. J J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar